Kabupaten Trenggalek bukan hanya dianugerahi pesona alam pesisir yang memukau, melainkan juga menyimpan kekayaan warisan budaya takbenda yang sangat adiluhung. Salah satu manifestasi budaya terbesar, termegah, dan paling dinantikan oleh ribuan wisatawan setiap tahunnya adalah Upacara Adat Larung Sembonyo. Digelar secara sakral di pesisir Pantai Prigi, Kecamatan Watulimo, ritual ini bukan sekadar rutinitas seremonial, melainkan sebuah jembatan historis, spiritual, dan sosial yang menghubungkan masyarakat modern dengan asal-usul leluhur mereka.
1. Akar Sejarah dan Asal-Usul Ritual Sembonyo
Untuk memahami kedalaman makna Larung Sembonyo, kita harus kembali ke masa lampau, ratusan tahun lalu, ketika wilayah pesisir Watulimo masih berupa hutan belantara yang angker dan berbatasan langsung dengan ganasnya Samudra Hindia. Menurut penuturan para sesepuh adat dan catatan sejarah lokal, upacara ini berkaitan erat dengan kisah babad tanah (pembukaan lahan) Watulimo oleh seorang ksatria tangguh bernama Tumenggung Yudha Negara, seorang perwira utusan dari Kerajaan Mataram Islam.
Dalam misinya membuka wilayah baru tersebut, Tumenggung Yudha Negara beserta para pengikutnya menghadapi berbagai rintangan gaib dan alam yang luar biasa berat. Guna memohon keselamatan kepada penguasa laut selatan (Nyi Roro Kidul atau dalam versi lokal sering disebut sebagai penguasa laut selatan) agar para nelayan dapat melaut dengan aman, diadakanlah sebuah perjanjian spiritual. Perjanjian ini disimbolkan melalui ritual pernikahan adat antara Tumenggung Yudha Negara dengan putri penguasa laut selatan. Replika dari persembahan pernikahan inilah yang menjadi cikal bakal nama ‘Sembonyo’, yang merujuk pada bentuk boneka pengantin tradisional dari tepung beras yang diletakkan di atas tumpeng saji.
Seiring berjalannya waktu, ritual yang awalnya bersifat personal-spiritual ini bertransformasi menjadi sedekah laut massal yang dilakukan oleh seluruh komunitas nelayan di Teluk Prigi. Upacara ini diadakan setahun sekali pada bulan Selo (dalam kalender Jawa), sebuah bulan yang dianggap suci dan penuh berkah untuk memanjatkan doa syukur atas melimpahnya tangkapan ikan serta keselamatan bagi para pelaut yang mencari nafkah di tengah samudra luas.
Gambar: Ilustrasi kemeriahan festival budaya dan pelarungan sesaji di pesisir selatan.
2. Prosesi Ritual: Dari Arak-arakan Agung hingga Detik-detik Pelarungan
Pelaksanaan Larung Sembonyo memakan waktu beberapa hari dengan rangkaian acara yang padat, namun puncak acaranya selalu berhasil menyedot perhatian massa. Pagi hari sebelum pelarungan, atmosfer di sekitar Pelabuhan Perikanan Nusantara (PPN) Prigi sudah dipenuhi oleh wewangian kemenyan, bunga melati, dan gending-gending Jawa yang bertalu-talu dari perangkat gamelan. Fokus utama dari perhatian semua orang adalah Tumpeng Agung, sebuah gunungan nasi kuning setinggi lebih dari dua setengah meter yang dihiasi dengan sayur-mayur, buah-buahan hasil bumi, lauk-pauk, serta kepala sapi yang dibungkus kain kafan.
Prosesi dimulai dengan kirab budaya (arak-arakan). Tumpeng Agung beserta tumpeng-tumpeng pendamping dari masing-masing desa nelayan ditandu oleh para pemuda berpakaian adat ksatria Jawa. Di belakang mereka, barisan wanita paruh baya dengan kebaya anggun membawa aneka sesaji, diikuti oleh para tokoh adat yang merapalkan doa-doa keselamatan dalam bahasa Jawa kuno. Rute kirab yang dimulai dari kantor kecamatan menuju dermaga dipadati oleh lautan manusia yang ingin melihat dari dekat atau sekadar mengambil foto dokumentasi.
Sesampainya di dermaga pelabuhan, dilakukan upacara serah terima sesaji dan pembacaan doa lintas generasi. Suasana mendadak hening dan magis ketika tetua adat mulai membakar dupa dan merapalkan mantra inti. Setelah doa selesai, Tumpeng Agung dinaikkan ke atas kapal utama yang telah dihias sangat megah dengan bendera warna-warni dan janur kuning. Kapal utama ini kemudian bergerak perlahan membelah ombak Teluk Prigi, dikawal oleh ratusan kapal nelayan berukuran lebih kecil yang membentuk formasi barisan rapi di belakangnya.
Ketika rombongan kapal mencapai titik koordinat laut lepas yang telah ditentukan (biasanya di sekitar tebing karang yang disakralkan), sirine kapal dibunyikan. Ini adalah tanda bahwa Tumpeng Agung siap dilarung ke dalam samudra. Begitu tumpeng menyentuh air dan mulai tenggelam ditarik arus laut, sorak-sorai nelayan pecah. Banyak nelayan yang langsung melompat dari kapal mereka ke dalam laut untuk berebut bagian tumpeng atau sekadar membasuh wajah mereka dengan air laut yang berada di sekitar tumpeng tersebut. Mereka percaya bahwa air dan sisa sesaji tersebut mengandung berkah keselamatan, kesehatan, dan keberuntungan rezeki untuk setahun ke depan.
3. Relevansi Sosial, Ekonomi, dan Pariwisata Modern
Di era modern saat ini, Pemerintah Kabupaten Trenggalek berhasil mengemas Larung Sembonyo tidak hanya sebagai ritual mistis-keagamaan lokal, melainkan sebagai sebuah festival budaya berskala nasional yang masuk dalam kalender wisata tahunan. Dampak ekonomi yang dihasilkan dari acara ini sangat masif. Selama seminggu penuh rangkaian festival, hotel, penginapan, dan homestay di sekitar Watulimo selalu penuh dipesan. Para pelaku UMKM, pedagang cinderamata, hingga warung kuliner lokal mengalami lonjakan omset yang luar biasa.
Lebih dari sekadar hitungan materi, Larung Sembonyo adalah simbol solidaritas yang kokoh di antara para nelayan. Proses pembuatan tumpeng, persiapan kapal, hingga pengamanan acara dilakukan secara gotong-royong tanpa memandang status sosial. Ini adalah momen di mana seluruh elemen masyarakat bersatu, memperkuat tali silaturahmi, dan menegaskan kembali identitas kolektif mereka sebagai masyarakat bahari yang tangguh dan selalu bersyukur atas karunia Tuhan Yang Maha Esa.

Komentar